Homeschooling

Alhamdulliah…
Hari ini saia,uda kelar UTS…
semester niy,UTSnya aneh,…
gmn ga aneh,dari 20 sks,12 sks open book…
huwrey…
mg2 nti happy ending…
wekeke…

Sebenernya bingung mau nulis apa’an…
truz td,di LPSI temand saia fai lg sibuk buat revisi LKTM nya…
hwaduh,jd inget LKTM saia yang ga lolos ditingkat fakultas….
hiks2…
nasib2….
coz,memang karya tulis saia kurang mendetail,n’ paparan waktu presentasi kurang siph…
n’ jd pelajaran penting buat saia,kedepannya…
saia akan bahas disini tentang sedikit karya tulis saia,tentang homeschooling…
mungkin berguna buat temand2 untuk mengubah paradigma kita tentang pendidikan,…

Latar belakang tentang homeschooling(HS) niy,adalah tentang ketidakpuasan masyarakat atas sistem pendidikan di indonesia.Adalah wajar bila orangtua mendambakan pendidikan yang dipercaya mampu memberi keturunannya suatu pegangan yang memadai bagi kehidupannya di masa depan, paling sedikit sebagai manusia individual,tentunya. Di negara merdeka mana pun, pengadaan pendidikan yang ideal ini merupakan misi suci pemerintah, mengingat ia harus bisa menyiapkan warga (citizen) yang andal.Untuk itu dibutuhkan suatu system pendidikan atau pembelajaran sebagai alternatif pendidikan yang dapat diimplementasikan di masyarakat.

Pemerintah juga dituntut menghargai kebebasan para orangtua untuk memilihkan anak-anaknya dalam memperoleh pendidikan berkualitas.Agar pendidikan dapat dijangkau (accessible), penghapusan diskriminasi sebagai mandat dari undang-undang HAM internasional perlu menjadi prioritas kebijakan pendidikan. Agar pendidikan dapat diterima (acceptable), hak-hakmanusia seyogianya diterapkan dalam proses pembelajaran. Agar pendidikan dapat disesuaikan (adaptable), pendidikan perlu menyesuaikan minat utama setiap individu anak.Nah,itu yang selama ini masih patut dipertanyakan?!

okeh,sekarang kita bahas kondisi real sistem pendidikan di kota surabaya.Sebagaimana kita tahu
Program pendidikan nasional yang merupakan acuan Pendidikan Kota Surabaya dan berlangsung saat ini terbukti justru menghambat kinerja sistem pendidikan nasional dan terlalu berorientasi pada sisi penyediaan layanan pendidikan, kurang memperhatikan sisi kebutuhannya. Banyak Peraturan Pemerintah dan Peraturan ataupun Keputusan Menteri Pendidikan Nasional yang tidak memperkuat Sistem Pendidikan Nasional. Potret pendidikan nasional masih ditandai dengan formalisme yang luar biasa, bahkan mengarah pada too-much schooling. Otonomi sekolah dan guru dirusak oleh Ujian Nasional yang ikut menentukan kelulusan peserta didik. Sekolah dan guru tidak lagi aktor pendidikan yang dapat dipercaya, bahkan oleh Pemerintah sendiri. Kewajiban pemerintah untuk memastikan layanan pendidikan yang bermutu melalui akreditasi sekolah praktis tidak berjalan secara baik, dan sertifikasi guru amat terlambat dilakukan. Pemerintah justru menyibukkan diri menagih kinerja belajar peserta didik melalui Ujian Nasionalnamun lalai menagih kinerja sekolah melalui akreditasi, dan kinerja guru melalui sertifikasi guru. Kesenjangan sarana dan prasarana sekolah, bahkan antar satuan pendidikan negri, masih amat lebar.

Minat, bakat, dan kemampuan anak yang beragam, dan unik dengan kecerdasan mejemuknya diabaikan secara sistematik. Banyak guru yang tidak memahami tanggungjawab dan etika profesi guru, tidak mampu mengembangkan proses pembelajaran yang inovatif dan luwes sehingga gagal membangun pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) boleh dikatakan tidak berjalan di tangan guru-guru yang tidak kompeten ini. Dapat dikatakan bahwa budaya (kultur) birokrasi pendidikan nasional tidak berubah, walaupun struktur-nya sudah dirancang baru. Pemerintah masih sangat berorientasi pada sisi penyediaan layanan pendidikan (supply side).Inipun masih amat jauh dari harapan. Sisi kebutuhan (demand side) pendidikan belum ditangani secara memadai.

Dampaknya pendidikan yang berkualitas dan kompeten tidak dapat tercapai.Berdasarkan fakta yang ada,bahwa pendidikan di Surabaya sedang mengalami penurunan prestasi.Ada 2 alasan yang mendasari penilan tersebut. Pertama, jika dilihat dari jumlah ketidak lulusan siswa, maka surabaya memiliki jumlah ketidak lulusan yang sangat besar dibanding dengan daerah di sekitarnya. Di Surabaya ada 3.2 % siswa SMP yang tidak lulus dari 36.611 siswa yang ikut ujian.Sementara Sidoarjo hanya 0.45 % yang tidak lulus dari 26.689 siswa, Gresik hanya 0.18 %, Tulungagung hanya 0.21 %, Pamekasan hanya 0.25 %, bahkan Lamongan hanya 0.05 %. Artinya, dari setiap 1.000 orang siswa di Surabaya ada 32 orang yang tidak lulus, sedangkan dari setiap 1.000 orang siswa di Sidoarjo hanya lima orang yang tidak lulus, Gresik dua orang, Tulungagung dua orang, dan Pamekasan tiga orang. Kedua, Jika dilihat dari nilai rata-rata hasil Unas, maka Surabaya berada di posisi yang memprihatinkan, yakni di posisi 14 dengan nilai rata-rata 22,51. Sementara lima besar ditempati daerah lain secara berturut-turut Gresik (24.37),Lamongan (24.19), Tulungagung (24.09), Pamekasan (23.93) dan Sidoarjo (23.88).

Belum lagi ada beberapa kecamatan di surabaya yang belum memiliki SMP Negeri yaitu Kecamatan Dukuh Pakis, Benowo dan Gununganyar.
Tingkat masyarakat kurang mampu di surabaya juga cukup tinggi.Berdasarkan data GAKIN (Keluarga Miskin) dari 111.897 KK Gakin 2007 tersebut didapat kenyataan bahwa ada 39.317 anak usia sekolah SMP dan SMA (13-18 tahun). Dari jumlah tersebut ternyata didapatkan 17.190 anak yang tidak mengikuti wajib belajar sembilan tahun atau tidak mengikuti pendidikan di tingkat SMP. Artinya pula bahwa terdapat 43.72 persen anak usia SMP ke atas dari keluarga miskin tidak bisa mengikuti Wajar 9 tahun.memang sangat ironis sekali y?!

Sistem persekolahan yang terbangun saat ini belum mampu menunjukkan suatu pelayanan yang baik bagi masyarakat.Sekolah masih terjebak dalam formalisme yang luar biasa, dengan jadwal
belajar yang sangat kaku, dan amat berorientasi pada kurikulum dan guru, bukan pada anak. Padahal, seharusnya kurikulum dan guru diorientasikan bagi kepentingan terbesar peserta didik sebagai konsumen dengan kebutuhan yang unik sekaligus beragam.Sementara mengharapkan perubahan kinerja sistem persekolahan kita saat ini yang tidak ramah anak, Sistem Pendidikan Nasional memberi jalan keluar yang menarik, sekalipun tidak mudah, yaitu sekolahrumah (home schooling).

Secara konsep, sekolahrumah pada dasarnya berlangsung sejak anak dilahirkan, dan dilakukan secara informal oleh keluarga Sekolahrumah mendorong pendidikan untuk masuk pada esensi dan substansi pembelajaran. Sekat-sekat tempat, waktu, dan sumber belajar dapat dicairkan. Infrastruktur yang diperlukan dalam pendidikan model sekolahrumah pun menjadi lebih sederhana dan tidak semahal infrastruktur yang diperlukan dalam pengembangan sekolah formal yang ada pada saat ini.

Keterlibatan aktif orangtua di dalam pendidikan adalah sebuah hal yang sangat positif. Keterlibatan itu mengimplikasikan tercurahnya sumberdaya keluarga secara maksimal untuk pendidikan anak, bukan hanya secara material, tetapi juga secara psikologis yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan anak. Kecenderungan ini lebih baik dibandingkan ketidakpedulian orangtua pada saat ini yang menggantungkan masa depan pendidikan anak pada para guru dan sistem sekolah. Kesediaan keluarga untuk terlibat dan bertanggung jawab dalam proses pendidikan adalah modal besar untuk perbaikan dunia pendidikan.

Secara substansi, materi pelajaran ala sekolah formal bisa diadaptasikan dengan mudah di mana pun, termasuk di rumah. Bahkan ada banyak kelebihan yang bisa diperoleh jika itu dilakukan di rumah, yaitu terlaksananya pembelajaran secara individual. Dengan pembelajaran individual, guru akan lebih mudah mengamati keterserapan materi pelajaran oleh siswa. Oleh karena itu pula, siswa dapat menguasai pelajaran apa pun secara mendalam, karena waktu yang tersedia untuk bertanya dan menemukan jawaban jauh lebih banyak dibandingkan mereka yang belajar di sekolah secara klasikal dengan murid yang mencapai puluhan orang,

Dengan menggunakan homeschooling ini masalah sistem pendidikan yang masih belum berjalan dengan baik. Pengaplikasian konsep homeschooling dalam implementasi pendidikan formal akan lebih memfokuskan kepada anak/peserta didik sebagai subjek pendidikan. Pada akhirnya apabila homeschooling ini dapat dilaksanakan maka pendidikan yang berkualitas dan kompeten akan dapat terpenuhi sehingga tujuan dari pendidikan akan tercapai.

gmn,apa temand2 uda dapat gambaran tentang homeschooling,yang masih merupakan sesuatu yang baru di lingkungan kita…
mungkin,menurut temand2 rada aneh untuk melakukan homeschooling,karena paradigma kita selama ini sekolah harus formal..
dan itu yang harus kita ubah!!
fiuyh…
capek jg y…
kayaknya cukup dulu postingan hari ini…
saia mw meratapi ke-jomblo-an saia dulu,yang telah sekian lama….
sampe bosen nunggunya!T_T
[halah!]..

yasuw,i’m out…

Yang terpenting dalam olimpiade..
bukanlah kemenangan,tetapi keikutsertaan..
Yang terpenting dari kehidupan..
bukanlah kemenangan,..
namun bagaimana bertanding dengan baik…

Barron Piere de Courbetin,
Pendiri dan Presiden Pertama

Komite Olimpiade Internasional

4 thoughts on “Homeschooling

  1. mas.mas..

    lhu fakultas of aph sie?
    koo ngemengin komputer mulu ..?

    eh.
    masukkin k friend list sie..

    tar ditaro di blogroll gw dhe .
    ehe x)

  2. @ heroine19th : saia tuh dari,Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya,Attended 2007 – Present,Class of 2011,Bachelor’s Degree,
    Information System.
    jadi,emg berhubungan ma komputer n’ manajemen…
    siph,nti aq taro di blogrollnya y..
    happy blogging..

  3. Bingung apa bingung nie?🙂
    Mas ajarin buat banner dunk, kayak yang “baca dulu komentar belakangan” bagi ilmu sekaligus nyerdasin bangsa😆

    Salam kenal jangan lupa untuk mampir juga ke blogQ😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s