kekerasan pada anak

Postingan ini merupakan opini pribadi terhadap kekerasan terhadap anak.ini adalah reaksi penulis terhadap berita di jawa pos.. ada kejadian dimana seorang ayah kandung yang melakukan tindakan kekerasan,memperkosa dan menjualnya di lokalisasi di surabaya.. dan berita di republika yang menyebutkan bahwa Lebih dari 10 Persen Anak Alami Kekerasan..

http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=329173&kat_id=23

tulisan ini saya buat untuk rubrik aktivis kampus koran JAWA POS tahun 2007.. disini sayaa akan mengangkat kembali sebagai bentuk kepedulian penulis atas kekerasan terhadap anak-anak..

Kekerasan Pada Anak,Salah Siapa?

Setiap tanggal 23 juli,anak-anak di Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Seperti halnya hari-hari besar lainnya,Hari Anak Nasional merupakan bentuk penghargaan pemerintah Indonesia terhadap anak-anak Indonesia yang merupakan sumber daya potensial dan generasi yang akan melanjutkan perjuangan bangsa Indonesia dimasa depan. Tentunya,dalam masa tumbuh mereka dibutuhkan suatu lingkungan yang kondusif.

Faktanya,fenomena yang ada di masyarakat,masih banyak terjadi tindakan-tindakan kekerasan terhadap anak secara fisik maupun psikis,eksploitasi dan penelantaran. Hal ini,terus meningkat setiap tahun,dengan korban kekerasan yang lebih banyak. Bulan April yang lalu,pemerintah mengesahkan UU No.21/2007 tentang perlidungan anak. Namun,UU tersebut belum dapat menjamin hak-hak dan keselamatan anak-anak dari tindak kekerasan. Salah satu yayasan di Surabaya mengklaim bahwa 90% anak-anak asuh yang dibina merupakan korban kekerasan,eksploitasi dan penelantaran(jawa pos,22 juli 2007). Tindakan kekerasan kepada anak juga merambah ke dalam media elektronik. Bentuk kekerasan berupa program-program ataupun sinetron yang mengangkat tema kekerasan kepada anak.Sangat disayangkan,televisi yang merupakan media untuk mendidik,dijadikan sebagai sarana eksploitasi kekerasan kepada anak demi meningkatkan rating televisi tersebut. Bahkan,Sunarto dalam disertasinya yang memfokuskan penelitiannya pada media televisi menemukan fakta bahwa teks film animasi anak-anak jg berisi kekerasan dalam wujud kekerasan personal khususnya kepada gender wanita.

Bentuknya mulai kekerasan psikologis,seksual,dan fungsional.(jawa pos,23 juli 2007) Disisi lain,ditengah pilkada yang sedang diadakan di setiap daerah,jika diperhatikan hampir tidak ada satupun kandidat yang concern dan membahas masalah kekerasan dan perlindungan anak. Para kandidat lebih banyak memperhatikan pembangunan disana sini,tanpa memperdulikan hak-hak anak itu sendiri. Padahal anak-anak merupakan aset terbesar bangsa,yang menentukan nasib bangsa di masa depan. Bisa dibayangkan,bagaimana anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kekerasan disekitarnya? Apa yang akan terjadi dengan mereka,jika kelak dewasa? Pasti,tindakan kekerasan yang mereka alami sewaktu anak-anak akan menimbulkan dampak psikologis dan traumatis sehingga cenderung bersikap lebih”keras” lagi terhadap anak-anaknya nanti. Tentunya,hal ini akan terus berlanjut,bila tidak segera diatasi.

Siapa yang bersalah? Dalam hal ini,tentu semua pihak yang berhubungan dengan anak-anak. Keluarga,masyarakat,pemerintah ikut berperan besar. Pertama,tentunya faktor keluarga merupakan prioritas dalam perkembangan anak,karena didalam keluarga anak mulai mengenal kehidupan,mendapatkan kasih sayang dan sebagian besar waktunya dihabiskan bersama keluarga. Pengaruh keluarga memang besar terhadap anak-anak.Namun,menurut Komisi Perlindumgan Anak(KPA),keluarga juga cenderung menjadi pelaku terbesar kekerasan kepada anak. Sungguh ironis,ketika keluarga dijadikan sebagai “pegangan” anak dalam kehidupan,figur yang baik,tetapi anak dijadikan objek kekerasan fisik dan psikis dengan alasan pendisplinan sikap.Banyak dijumpai kasus-kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga(KDRT) yang terjadi di setiap daerah dengan anak sebagai objek kekerasan.

Bagaimana anak bisa tumbuh dengan baik,bila keluarga yang merupakan “rumah pertamanya” menjadikan anak sebagai pelampiasan egoisme secara sepihak? Anak-anak adalah manusia yang belum banyak tahu tentang kehidupan.Mereka perlu belajar seiring bertambahnya usia. Dengan dampak traumatis,anak-anak tentu lebih banyak mengetahui tentang bagaimana sakitnya kekerasan yang mereka alami. Kedua,masyarakat sebagai suatu kelompok dimana anak-anak berada ditengah-tengahnya, namun juga berperan besar menjadi pelaku kekerasan terhadap anak. Masyarakat seharusnya ikut mengawasi dan peka terhadap segala bentuk tindakan kekerasan kepada anak yang terjadi di lingkungannya,karena bagaimanapun anak-anak merupakan bagian dari masyarakat. Ketiga,pemerintah dari tingkat daerah sampai pusat cenderung kurang tegas dalam menindak tayangan-tayangan yang mengangkat kekerasan kepada anak di televisi dan para pelaku kekerasan terhadap anak.

Begitu juga dalam kasus-kasus KDRT yang sering luput dari perhatian pemerintah,padahal bagaimanapun anak akan selalu jadi korban KDRT baik secara langsung maupun tidak langsung. Seharusnya,pemerintah melalui KPA seharusnya lebih concern terhadap permasalahan ini,karena masalah kekerasan ini akan menjadi masalah besar,tidak hanya saat ini tetapi juga di masa yang akan datang. Bagaimana suatu bangsa dapat dipimpin oleh anak yang mengalami traumatis kekerasan yang terjadi pada dirinya? Oleh karena itu untuk mengantisipasi kekerasan kepada anak dibutuhkan kerjasama dan komunikasi yang baik antara keluarga,masyarakat dan pemerintah.Tanpa itu semua,anak-anak korban kekerasan akan bertambah setiap tahunnya dan menjadi beban semua pihak. Biarkanlah anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang baik dan kondusif,sehingga mereka akan menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan berguna bagi bangsa dan negaranya.

lalu bagaimana tindakan kita sebagai mahasiswa?

tanyakan pada diri kita masing2…

Belajarlah dari kesalahan orang lain.

Engkau tidak dapat hidup cukup lama

untuk mendapatkan semua itu dari dirimu sendiri.

(no name)

4 thoughts on “kekerasan pada anak

  1. dunia anak sebenarnya bermain,belajar dan yang baik-baik lainnya namun hal ini sangat bertolak belakang dengan yang terjadi terhadap anak-anak Indonesia di mana anak masih dianggap sebagai orang dewasa mini yang di perlakukan sama dengan orang dewasa walaupun dalam UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak di jamin tentang penghargaan terhadap hak-hak anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s