Katok Kotak “plaid clothing”

Alhamdulillah,pada tahun 2010 kemarin,saya dan tim diberi kesempatan untuk memulai usaha baru yaitu katok kotak. Berawal dari coba-coba meng-apply di lomba bisnis plan yang diadakan di ITS, katok kotak berhasil lolos untuk merealisasikan usaha ini. Dan alhamdulillah lagi, katok kotak bisa diliput sama majalah Gengsi,yaitu majalah di jurusan sistem informasi. Ini saya cantumkan artikel yang ada di Gengsi

KatokkotaK, memulai bisnis dari proposal!

JSI kembali menelurkan calon enterpreneur! Setelah Ternak Blog, Wooho, dan Amba, kali ini lahir brand baru yang digawangi oleh Ardiaz Ajie Aryandika, Nur Safira Assyifa, dan Silvi Eka Susanty. Ketiganya adalah Gengsiesta semester 7. Bisnis yang mangambil nama “KatokkotaK” sebagai brand ini merupakan salah satu karya bisnis plan terpilih untuk didanai oleh Dikti melalui acara Program Mahasiswa Wirausaha 2010 yang diselenggarakan oleh ITS beberapa bulan lalu. Gengsiesta yang lolos dalam acara ini terbagi dalam 5 kelompok hanya saja 3 kelompok lain adalah gabungan Gengsiesta dengan mahasiswa dari luar JSI. Hanya KatokkotaK dan Hotasi (Hot Tahu Isi) saja yang anggotanya adalah para Gengsiesta.

“KatokkotaK sebenarnya adalah bisnis yang bergerak dibidang konveksi yang memproduksi segala macam busana yang bermotif kotak-kotak. Jadi bukan hanya celana (kathok dalam bahasa jawa, Red) yang bermotif kotak, melainkan semua jenis busana mulai dari Kemeja, kaos oblong, celana, jaket, dan sebagainya”, kata Ardiaz atau yang lebih akrab disapa Diaz. Bahkan rencananya ditengah perjalanan bisnisnya nanti KatokkotaK juga akan memproduksi mukena, busana muslim serta aksesoris dalam motif kotak.

Kalo Gengsiesta pada nyari lokasi usahanya gak bakalan ketemu soalnya KatokkotaK masih dalam masa pencarian. Ceileee, pencarian. Ya, 3 orang calon enterpreneur muda ini lagi mecari modal tambahan untuk mengembangkan bisnisnya selain dana pinjaman dari Dikti. “Sebenarnya usaha ini sudah jalan, kita sudah melakukan analisis pasar, survey-survey sampai kerjasama dengan konveksi dan toko rekanan. Dananya sendiri sudah cair sebagian dan sekarang sedang masuk masa produksi”, terang Safir penanggung jawab desain KatokkotaK. Gadis berjilbab ini juga menambahkan karena masih masa-masa awal jadi KatokkotaK belum punya toko fisik, rencananya cuma masih mau dipasarkan via online dan melalui toko rekanan KatokkotaK.

Dana ini berstatus pinjaman jadi harus ada pengembalian. Jangka waktu pengembalian dana yang dijanjikan oleh tim KatokkotaK adalah 2 tahun sesuai dengan regulasi dari ITS. “Sama halnya seperti proses pencairan dana yang dilakukan secara bertahap yaitu pencairan pertama adalah 70%, pencarian kedua 30%, pengembalian dana dari tim KatokkotaK kepada Dikti juga akan dilakukan secara bertahap”, aku Diaz
Sebelum berhasil lolos untuk didanai, ketiga Gengsiesta ini sudah beberapa kali ikut jenis perlombaan bisnis plan. Dan jangan salah, keberhasilan gak selalu mereka dapatkan. Sempat merasakan kegagalan membuat tim ini terus belajar untuk mengembangkan diri dan mencari ide yang lebih unik dan inovatif.

“Awalnya kami tertarik untuk ikut lomba enterpreneur semacam ini karena adanya mata kuliah Pengentar Technopreneurship. Lalu kami coba mengajukan proposal bisnis plan dengan brand ‘Batikkita’ di lomba Bisnis Plan Sampoerna Foundation Club tingkat Surabaya dan ternyata kita bisa lolos Juara II. Gak berhenti sampe disitu, kita mencoba mengajukan proposal lagi dengan brand ‘Sarung Outlet’ di lomba bisnis plan yang diadakan oleh ITS tahun lalu (2009, Red) namun sayangnya kita gagal”, papar ketua tim KatokkotaK ini.
Kegagalan tidak membuat tim ini menyerah begitu saja. Dengan beberapa perbaikan dan improvement tim ini mengajukan lagi proposal bisnis plan dalam lomba bisnis plan yang diadakan kembali oleh ITS tahun ini dengan mangambil ide yang berbeda dari tahun sebelumnya. Dan muncullah KatokkotaK sebagai brand yang mereka ajukan yang akhirnya lolos untuk mendapat dana dari Dikti.

“Selain belajar dari kegagalan sebelumnya, kita juga belajar dari beberapa bisnis plan milik teman-teman lain. Dari situ kita bisa tau kekurangan-kekurangan yang bisa kita hindari. Sistem penulisan proposal, teknik presentasi, inovasi dan originalitas ide juga harus benar-benar diperhatikan agar proposal kita lolos seleksi dan mendapat dana”, pesan Silvi yang ditunjuk sebagai bagian keuangan dalam KatokkotaK.
Sebagai penutup, tak lupa mereka menyampaikan harapannya untuk bisnis KatokkotaK mereka ini.

“Harapannya adalah kita pengen bisnis KatokkotaK ini bukan hanya bisnis sampingan tapi kita pengen bisnis ini benar-benar serius dan sukses kedepannya mengikuti keberhasilan brand Dagadu, Rabbani, dsb. Ini adalah bagian dari salah satu cita-cita kita yaitu kalau sudah lulus, bukan hanya menjadi job seeker tapi bisa menjadi job creator sehingga bisa bermanfaat buat yang lain”,ujar Diaz yang diamini oleh Safir dan Silvi.

Bagi Gengsiesta yang juga ingin berprestasi terutama dalam pengajuan proposal bisnis, ada beberapa tips dan pesan dari KatokkotaK. “Selain keunikan dan kreatifitas ide, faktor keuangan dan target pasar juga harus benar-benar diperhatikan. Selain itu, kita juga harus memperhitungkan cash flow, target perbulan serta rincian modal dan pengeluaran secara detail dan matang. Dan yang terpenting adalah restu orang tua”, imbuh Diaz yang disambut tawa oleh anggota tim yang lain.

“Untuk menghasilkan bisnis plan yang kreatif tidak usah terpatok hanya pada bidang yang kita tekuni. Meskipun bidang kita adalah IT, tidak selalu harus membuat usaha dibidang IT pula karena bisa saja bisnis yang kita bangun justru lebih prospektif dibidang lain selain itu kita juga tetap menggunakan IT didalam pengembangan bisnis kita”, tambah Silvi, gadis bekacamata yang dikenal pintar ini. “Manfaatkan sebaik-baiknya status kita sebagai mahasiswa karena dengan menyandang status ini kita bisa mengikuti berbagai macam lomba bisnis plan maupun lomba lain. Kalo sudah tidak menjadi mahasiswa akan lebih sulit untuk mengikuti lomba-lomba bisnis plan seperti ini”, pesan Safir.

“Dan untuk yang terakhir, untuk gengsiesta semoga slogan Unlimited Vision dan Unlimited Creatifity tidak hanya sekedar slogan namun benar-benar tertanam dalam jiwa Gengsiesta sehingga bisa menjadi penyemangat untuk terus berkarya dan berprestasi, menembus limitasi kita”,ungkap Diaz.
Wah..wah…kalo yang terakhir ini memang benar-benar mencerminkan seorang (mantan) Kadept PSDM HMSI ini. Semangat buat bisnis, semoga Gengsiesta lain bisa mengikuti jejak mereka.

I don’t believe I have to be better than everybody else.
I believe,I have to be better than I ever thought we could be.
– Ken Venturi –

2 thoughts on “Katok Kotak “plaid clothing”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s