SAYA, INTERNET & GAYA HIDUP

anak dan internet

anak dan internet

Internet, 11 tahun yang lalu merupakan kata yang asing bagi seorang anak SD kelas 6 yang tinggal di salah satu kota kecil bernama teluk betung. Kota kecil yang terletak di Propinsi Lampung dimana belum banyak tersentuh dengan kemajuan teknologi seperti akses untuk internet apalagi untuk anak usia 12 tahun, jelas internet merupakan hal yang langka bagi peradabannya. Jika dilihat dari sejarah, internet sudah ditemukan pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika, U.S.Defense Advanced Research Projects Agency(DARPA), atau lebih tepatnya 31 tahun sebelum anak itu kenal dengan internet.

Fenomena ini pasti dialami oleh hampir seluruh anak serta masyarakat pada masa itu,masa dimana sangat sulit sekali untuk mendapatkan akses internet,kalaupun ada butuh biaya yang banyak untuk mengakses internet dan tentunya biaya yang mahal bila dibandingkan dengan uang jajan anak itu dan mayoritas anak sekolah di Indonesia sebesar Rp.500/hari. Padahal, biaya akses internet di warnet berkisar antara Rp.6000 – 10.000/jam.

Cerita diatas merupakan sedikit pengalaman saya diwaktu kecil yang mewakili jutaan anak Indonesia yang mendambakan internet. 11 tahun lalu Internet memang menjadi hal yang ‘mewah’ bagi saya karena ketika ingin mengakses internet, saya harus mengumpulkan 3-5 teman untuk urunan dan hal yang demikian sudah menjadi tagline kami yaitu ‘satu kompi rame-rame’.  Tagline itu sepertinya sudah tidak berlaku saat ini. Apalagi di tahun 2011,siapa yang belum pernah mengakses internet? Kalau dilihat dari statistik, Indonesia menjadi salah satu pengguna terbesar didunia untuk situs facebook dan twitter. Bahkan seringkali 4 dari 10 Trending topic di Twitter berasal dari Indonesia. Kalau sudah begini,bisa diasumsikan mayoritas masyarakat Indonesia sudah ‘melek’ internet.

Ini perseden positif bagi perkembangan internet diindonesia karena selain itu juga ditunjang dari berbagai faktor seperti infrastruktur teknologi, bisnis warnet sudah banyak berkembang dan tersebar dari kota sampai pelosok, murahnya akses internet karena persaingan provider internet yang semakin memanjakan penggunannya, apalagi banyak handphone yang sudah dilengkapi fasilitas internetnya, walaupun hanya sekedar update status di facebook. Dan karena kemudahan akses internet itulah, saat ini internet menjadi gaya hidup serta sarana pergaulan dari masyarakat khususnya para pelajar.

Sebagai Negara yang berkembang, Internet di Indonesia memang sedang berkembang pesat. Nah, jika saya berandai-andai dan bisa terwujud,saat ini saya ingin menjadi seorang menteri pendidikan yang ingin turut andil didalam pengembangan internet khususnya untuk seluruh pelajar di Indonesia. Sebagai seorang menteri pendidikan, maka saya akan mengeluarkan satu kebijakan dengan tagline dari kebijakan itu adalah “satu tugas,satu posting”. Tagline ini mengadopsi kebijakan “satu jiwa,satu pohon” namun implementasiny sedikit berbeda dengan satu tugas,satu posting. Ide ini sederhana karena siswa hanya membuat artikel/posting diblog dari setiap tugas yang diberikan. Coba kita bayangkan, berapa banyak pelajar yang ada dari sabang sampai merauke, berapa banyak tugas yang mereka kerjakan, dan berapa banyak berbagai informasi berbeda yang bisa dihasilkan dari tugas-tugas itu yang bisa menambah khasanah ilmu pengetahuan mereka.

Objektif dari kebijakan “satu tugas, satu posting” adalah melalui kebijakan ini dapat menciptakan suatu trend gemar menulis khususnya di internet. Jadi, siswa bukan hanya bisa sekedar update status saja,namun mereka juga bisa belajar untuk menulis dan berbagi informasi di internet,karena menulis itu sepertinya mudah namun sulit dikerjakan. Seperti quote salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang mengatakan bahwa “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis, dia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Jadi jelas, salah satu manfaat dengan adanya kebijakan itu,maka akan memberikan stimulus gaya hidup menulis bagi siswa.

Bukannya akan memberikan kesempatan  untuk membudayakan COPY PASTE?

internet-sehat

internet-sehat

Anggapan ini ada benarnya dan jelas kesempatan itu akan jauh lebih besar terbuka,tapi pemikiran seperti itu terlalu sempit karena memandang ini hanya dari sisi negative. Mudahnya seperti ini :

Kenapa kita lebih enak memakai baju sendiri daripada memakai baju tetangga?

Kalau saya pasti malu memakai baju tetangga karena itu bukan milik saya,walaupun saya punya kesempatan besar untuk meminjam, atau meminta bahkan mencuri baju tetangga. Toh jika model baju tetangga memang lebih bagus dan branded, saya bisa menjadikan desain baju itu sebagai referensi bila saya ingin membuat baju yang sejenis, tentunya disesuaikan dengan selera saya. Itu ilustrasi sederhana dari jawaban atas pertanyaan Copy Paste, karena sudah menjadi rahasia umum kalau internet itu memang seperti koin logam yang berbeda disetiap sisinya, kalau kita menggunakan untuk hal uang negative, hasilnya akan negative. Sebaliknya jika penggunaannya positif, hasilnya yang didapat juga positif. Jadi berinternet sehat,kenapa tidak?!🙂

Artikel ini dibuat untuk mengikuti BHINNEKA BLOG COMPETITION
website Bhinneka.Com (http://www.bhinneka.com)

Human beings are human beings.
They say what they want, don’t they?
They used to say it across the fence while they were hanging wash.
Now they just say it on the Internet.
– Dennis Miller –

3 thoughts on “SAYA, INTERNET & GAYA HIDUP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s