Do or Do Not, Dont TRY

Susan..susan..klo gede mau jadi apa
Aku kepengen pinter biar jadi dokter

Sepenggal bait lagu tadi membawa saya pada nostalgia sewaktu kecil. Masa dimana hidup itu begitu indah, tanpa ada beban, karena disaat itulah tugas saya hanya bermain. Lagu itu saya kutip karena itu sepertinya menjadi representasi dari saya serta jutaan anak Indonesia yang memiliki cita-cita seperti dokter,pilot, presiden dsb. Coba ingat kembali,ketika dulu ditanya,” adek,klo sudah besar,mau jadi apa?

Apa masih ingat jawabannya?
Apa juga menjawab jawaban yang sama seperti susan yang ingin menjadi dokter atau pilot atau cita-cita lainnya?

Catatan kali ini memang tentang cita-cita, ya tentang cita-cita bukan mimpi,atau angan-angan atau khayalan karena menurut saya ada perbedaan yang sangat jelas diantaranya. Perbedaan yang simple, cantumkan tanggal di mimpi itu dan jadilah cita-cita. Jadi cita-cita itu ada batasan waktu, klo ga ada batasan waktunya, ya mimpi aja dah. Kalau memang tidak setuju dengan ini,ya silahkan anda definisikan sendiri ya😀

Ngomong-ngomong soal cita-cita, saya rasa setiap orang punya cita-cita yang ingin dicapai. Sejak kecil kita terbiasa untuk membuat cita-cita, sampe kita lupa berapa kali kita mengganti cita-cita. Saya rasa ini wajar karena sebenarnya anak kecil dilahirkan dengan rasa yang optimistis yang luar biasa. Coba kita tanyakan ke anak kecil,apa cita-citanya jika sudah besar. Secara spontan,anak kecil bisa menjawab ingin jadi pilot, dokter, spiderman, superman, dan sebagainya. Tidak ada keraguan bagi anak kecil bahwa mereka tidak bisa menggapai cita-citanya. Sedangkan ketika kita beranjak dewasa, kita berubah menjadi mahluk dengan pesimistis paling tinggi,penuh keraguan,perhitungan yang malah menghambat kita. Dan kita bisa belajar dari mereka,anak-anak kecil,yang selalu punya keyakinan akan cita-citanya.

Pernah baca buku your job is not your career? Klo memang belum, beli donk bukunya dan nanti saya pinjem ya.😛
Honestly, saya sendiri belum baca dan belum punya, Cuma saya tertarik dengan judul buku itu, your job is not your career. Kalo saya mencoba menerawang dari kata-kata itu, bisa diartikan apa yang kita lakukan sekarang ini (job), bisa jadi bukan yang sebnarnya kita inginkan (career). Kalau dihubungkan benang merahnya berarti seharusnya yang kita lakukan adalah yang erat dengan yang namanya Passion (hasrat), Purpose of Life (Tujuan Hidup), Value (Nilai) dan Happiness (Kebahagiaan).

Sekarang coba dibandingkan, dengan kenyataan yang ada khususnya dengan domain jurusan saya.
Pertama, pada saat ini kita sedang menempuh di jurusan sistem informasi ITS, yang notabenenya erat hubungannya pada teknologi informasi. Artinya bidang ini lah yang harusnya memberikan kita kebahagiaan tersendiri ketika kita mengerjakan yang terkait dengan algoritma, coding dan dokumen. Mau tidak mau, doyan tidak doyan, itulah yang harus diterima. Tinggal kita yang memilih, apakah ini akan menjadi job atau career. Tapi gimana jika kita masih memiliki cita-cita untuk menjadi dokter,artis mungkin , atau yang laennya, kira-kira apakah masih ada kesempatan untuk kesana?

Apakah ini adalah bagian dari rencana didalam menempuh cita-cita itu?
Atau jika bukan,apakah masih berada dijalur yang benar menuju cita-cita itu?
Atau jika itu masih bukan,apakah masih ada niat untuk menggapai cita-cita itu?

Bisa jadi, pilihan pertama merubah cita-cita yang sesuai dan mungkin digapai. Atau pilihan kedua, memutuskan drop out kemudian kembali ikut ujian lagi. Dan Intinya selalu ada pilihan untuk orang yang berusaha. Oia, Kalau tadi saya membandingkan dengan apa yang masih kita kerjakan sekarang, nah kali ini saya ingin coba bandingkan lagi deh dengan case yang lain.

IDEALISME
Pasti sudah sangat familiar dengan kata ini, apalagi dengan status mahasiswa yang identik dengan idealisme. Dan mungkin temen-temen setuju dengan pendapat saya, kalau kita selalu memegang teguh apa yang kita anggap benar tanpa terpengaruh tekanan dari orang lain. Bisa jadi idealisme ini pembenaran bahwa seharusnya hidup terkondisi pada keadaan yang sebagaimana dibayangkan, supaya semua yang dilakukan terasa nyaman buat diri sendiri, kelompok, atau apapun yang diyakini.

Sejujurnya, saya sangat membenci yang namanya birokrasi dimanapun, sekedar ngurus KTP atau SKCK aja uda ribet minta ampun, ya mungkin karena saya masih berada diluar sistem. Tapi Sudah hal yang alami, kalau manusia pasti berubah, dan begitu juga dengan idealisme kita. Ini yang kadang saya takutkan kalau- kalau apa yang sekarang kita tentang, maka suatu saat ketika kita sudah menjadi bagian dari sistem dan kita berubah menjadi “orang tua” yang menindas, menekan dan menggunakan kekuasaan untuk membuat kondisi yang lebih baik menurut versi orang tua. Hehehe, sebenarnya itu hanya sekedar mimpi jorok aja, dan saya kira semuanya pasti pernah berfikir seperti itu. Tapi kira-kira apa hubungannya sama cita-cita dan idealisme?

Masih ingat Peran dan fungsi mahasiswa?
Mahasiswa Sebagai :

  • Agent of Change
  • Iron Stock
  • Moral Force
  • Social Kontrol

Saya kenal dengan itu di LKMM Pra-TD sekitar 3,5 tahun lalu dan kayaknya ga perlu saya cerita panjang tentang 4 poin itu. Di kampus saya kenal dengan banyak orang antar angkatan, dari berbagai daerah, dengan ambisi dan keinginan yang bermacam-macam. Sewaktu kita menjadi mahasiswa, ada yang ingin setelah lulus memajukan daerahnya, ada yang ingin membuka perusahaan sendiri, ada yang ingin melanjutkan sampai study setinggi-tingginya kemudian menjadi dosen, ada yang ingin menjadi CIO di perusahaan asing / BUMN, dsb. Dan ke semuanya itu adalah cita-cita yang luar biasa. Namun menurut saya,cita-cita yang luar biasa itu lahir dari idealisme yang tinggi. Sesuai dengan definisi sebelumnya tentang idealism dimana idealisme itu pembenaran bahwa seharusnya hidup terkondisi pada keadaan yang sebagaimana dibayangkan, supaya semua yang dilakukan terasa nyaman buat diri sendiri, kelompok, atau apapun yang diyakini. Jadi cita-cita itu berdasarkan keinginan untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik.

Contoh sederhana, 3 tahun belakangan ini lagi tren tentang enterpreneurship,tidak terkecuali mahasiswa ITS, dan termasuk saya. Banyak mahasiswa yang ingin membuka usaha sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan baru. Tapi setelah lulus,seperti biasa Bursa Karir ITS masih ramai, dan seakan kita lupa tentang paham idealisme yang dijunjung tadi. Tekanan dari pihak luar/keluarga/orangtua, jaminan kesejahteraan, berada di zona aman, menjadi factor yang sangat mendukung untuk membuayarkan idealism tadi. Dan mungkin itu juga yang akan saya dan teman-teman semua alami. Begitu juga dengan keinginan yang lainnya seperti ingin mengabdi menjadi dosen, semuanya mempunyai motif yang sama, ketika kita sudah menjadi bagian dari sistem, dan berada diposisi nyaman, ya sudah, pelan-pelan idealisme jadi hilang.

where will you go

Ya apapun itu, ini hanya sekedar note iseng di sela-sela ngerjain TA, jadi jangan dipikir terlalu serius dan mari kita sama-sama menembak bulan, toh kalau mbleset dapatnya bintang.

Semoga Tuhan Bersama Mahasiswa Tingkat Akhir😀
Share the happiness.. (y2k)

DO or DO NOT, Don’t TRY
Yo da

8 thoughts on “Do or Do Not, Dont TRY

  1. farroh :

    saya sudah baca mas bukunya,,,ada ini di kamar sayaa,,, bagus koo bukunya,,, :)

    Wah..iya,trnyata memang banyak nih yg blg bagus..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s