Childhood and The City

Gema takbir sudah berkumandang dari masjid sebelah rumah. Alhamdulillah ya jamaah, ramadhan kali ini sudah selesai, besok sudah lebaran deh dan itu juga mungkin pertanda, bahwa ini  adalah lebaran terakhir saya di kota ini. Ya, pada akhirnya memang ini adalah waktu untuk hijrah. Saya sendiri memang sudah tidak tinggal disini sejak lulus SMP namun selama orangtua saya disini, saya selalu pulang untuk liburan. Kepindahan ini memang sudah lama direncanakan, namun baru setelah lebaran ini benar-benar terealisasi.

Postingan kali ini saya akan bernostalgia dengan kota masa kecil saya , karena memang selalu ada cerita disana. Setelah beberapa lama tinggal disini, memang baru sekian kali aja saya bisa lebaran di kota ini. Biasanya keluarga saya termasuk dalam 15 juta penduduk indonesia yang mudik bersama, dan setiap moment lebaran memang punya cerita yang berbeda, begitu juga di kota masa kecil saya ini.

“ Jalan Tangkuban Perahun No 42 Bandar Lampung”

Kalau teman2 maen ke lampung, sempatkan lah mampir ke daerah teluk betung, tepatnya di belakang polda, sebelah masjid sholihin. Disana ada rumah sederhana, dan itu rumah tempat saya mulai merangkai cita-cita.

Dulu didepan rumah ada pohon belimbing yang lumayan gede. Pohon itu biasanya  saya panjat buat keatap rumah.  Ngapain diatap?

“Menghayal sambil melihat laut dan senja”

Dari atap rumah ini saya bisa melihat pemandangan terbaik untuk melihat laut dan senja.

Senja itu selalu bagus dilihat bukan?

Ga jauh dari rumah, ada satu sekolah yang pada saat itu menjadi salah satu yang terbaik di kota ini, Taman siswa. Sekolah ini terbaik, karena mungkin satu-satunya yang deket rumah, tinggal ngglundung aja bisa nyampe.

Taman Siswa Perguruanku

Ada cerita lucu disini, untuk pertama kalinya, bocah SD kelas dua mendapat surat cinta dari teman sekelasnya.  Sebelum sempet baca semuanya, suratnya sudah dibuang karena deg-degan luar biasa waktu membaca kata “sayang” di paragraph pertama. Aneh ya, padahal jaman dulu,belum ada banyak channel di TV yg banyak mengumbar adegan kisah cinta remaja yang terlalu sempurna kayak di FTV.

Kaos kaki yang rada panjang, celana pendek sepaha, cem-ceman, rambut kelimis belah tengah, sepatu kelap kelip

itu uda jadi salah satu gaya wajib, mengenaskan?! Mungkin iya. Kalau masih ada fotonya sekarang, saya bakal istighfar dan taubatan nasuha. Tapi biarpun terlihat mengenaskan, saya pernah  menjadi salah satu pembaca puisi terbaik di kota ini lho, bangga?? ngga juga sih, mungkin sedikit congkak. Waktu yang lain baca komik, saya dipaksa baca karya sastra punya chairil anwar, makanya sekarang jadi suka kontemplasi, dan saya tetap suka juga baca komik #pinjeman.

Yang menarik dari ini adalah cara latihan yang diajarin guru saya. Latihan ditaman kota, laut, saling berhadap-hadapan begitu dekat sampe ababpun bisa tercium dengan jelas sampe-sampe saya kadang bisa menebak menu sarapan pagi partner saya dari situ.

Saya juga pernah menjadi anggota drumband, dulu saya pegang tenor. Pertama kali ikut latihan, saya ga punya stick. Padahal stick wajib dibawa, kalo sampe ga bawa, wah siap2 tangan dapet getokan stick. Saking paniknya karena saya ga punya stick, akhirnya saya potong deh gagang sapu, dan jadilah stick pertama saya. Paling ngga, dengan stick sapu ini, tangan saya ga ternoda, tapi kenyataan berkata lain.

Dulu waktu latihan, ga pake alat langsung, latihannya di kelas, dengan cara mukul-mukul meja kelas. Disiplin banget, sampe sekarang saya masih inget beberapa ketukan yang jadi ciri khas tempo marching band tamsis, efek getokan di tangan juga masih inget kok. Guru-guru SD saya memang luar biasa, dedikasi mereka ga akan pernah terganti oleh apapun. Dan terakhir kali saya kesini, sudah banyak yang berubah dari sekolah ini, tapi satu hal yang ga berubah, cerita saya di sekolah ini.

Ada Cerita di Kelas ini

***

SMP 3 letaknya deket kantor gubernur. Dulu namanya SLTPN 1, dan berubah menjadi SMP 3. Memang SMP ini, bukan yg nomor satu di kota ini tapi no 3😛 , dan tetap terbaik buat saya, karena mungkin lagi-lagi deket dengan rumah, sekitar 20 – 30 menit kalau jalan kaki dan kalau jalan kaki pasti banyak barengannya, tapi mau cepet ya cuma 5 menit sih klo pake kendaraan. Itulah alasannya kenapa dulu saya lebih slim daripada sekarang.😀

Herannya, sekolah ini selalu menjadi prioritas. Dari generasi tertua sampe termuda anak ayah pada sekolah disini, berapapun NEMnya, seperti ada kontrak mati, bahwa anak-anak ayah saya harus sekolah disini. Kasus ini sebenarnya sama seperti di SD, semua dari lulusan Taman Siswa.

masa muda,masa remaja

Ada Salah satu moment terbaik waktu SMP yaitu saat MOS. Saya terlibat dalam 2 kali pelaksanaan MOS di sekolah ini karena pada saat itu saya sempat menjadi bendahara OSIS dan Ketua ROHIS disini. Dan sebenarnya, pada saat MOS inilah, reputasi saya sebagai senior yang baik, perhatian dan terpuji ini dibuktikan. Sungguh saya berusaha menjadi senior yang mengayomi buat adik-adik yang lugu. 😀

Memang waktu di jaman Ini, mungkin saat saya mulai masuk masa pubertas, sering banget ngalamin cinta monyet dan jenis2nya. Tapi berhubung kencing belum bisa lurus, ga pernah sampe pacaran. #ngelesajadehgue

diaz muda pernah digampar di sini

Di SMP ini, saya juga bertemu dengan sahabat baik, setiap kali saya liburan ke kota ini, kita selalu nongkrong dan ngobrol banyak. Kadang, kita juga sempat iseng menyelinap ikut kelas di FE unila. Ga ada tujuan apa2, kita Cuma mengamalkan hak dan kewajiban warga negara  kayak yang tertulis di UUD 45 kok, saya sendiri percaya dengan pepatah yg bilang, “tuntutlah ilmu sampe ke negri cina”, jadi apa salahnya menuntut ilmu di kampus tetangga. Hehehe

Alhamdulillah ramadhan kali ini, saya sempat bertemu dengan teman-teman kecil, ya jadi semacam bernostalgia dengan mereka . Memang setiap ramadhan disini selalu ada cerita berbeda,  dan semoga selalu  ada kesempatan untuk melanjutkan cerita-cerita bersama mereka. Dimanapun dan bagaimanapun sahabat-sahabat saya sekarang, mereka selalu akan jadi kisah yang menarik untuk dikenang.  Selamat Lebaran teman-teman, Mohon maaf lahir batin😀

Dan aku akan kembali, pada suatu masa
Masa dimana aku, kamu menjadi kita
 Berbagi cerita tentang kota kita
Tidak ada mereka, Cuma kita. Bersama
– aryandika –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s