Belajar Filosofi dari Agate

Salah satu hari yang saya tunggu setiap minggu-nya adalah hari jumat. Selain itu salah satu hari besar umat islam, jumat selalu membawa semangat baru buat saya. Di Bandung Digital Valley , tempat saya ngantor setiap hari, hari jumat adalah saat dimana saya dan teman-teman diagendakan  meet up dengan para mentor, yang notabenenya adalah praktisi dunia IT yang telah sukses dengan startup nya.

Kalau kamu masih muda, tergila-gila dengan game dan ingin menjadi entrepreneur, tetapi tidak pernah mendengar “Agate Studio”, berarti kamu tidak gaul. Karena rasanya semua orang muda yang keren se-Indonesia sudah mendengar tentang sebuah startup game di Bandung yang didirikan oleh belasan orang mahasiswa ITB dengan modal nekat, passion dan kegilaan total pada game yang tidak ada obatnya. Berikut adalah obrolan saya dengan Arief Widhiyasa. – startupbisnis.com

Mentor kali ini yang datang Arief Whidiyasa. Dia adalah CEO salah satu perusahaan game yang sudah terkenal asal bandung, Agate Studio. Fenomenal sekali memang melihat kiprah dan cerita agate studio.

Tadinya ekspetasi saya tentang materi hari ini pasti berkisar tentang game development, dan ternyata salah besar. Memang tema yang dibawa oleh arief tentang business strategy, namun materi kali benar-benar filosofis, apalagi ditambah dengan sesi dari Pak Dwi Larso, Dosen SBM ITB, dan terus terang saya “tertampar” sekali dengan materi ini. Ini bukan lebay, tapi selama hampir 200 menit, saya merasa apa yang kami lakukan selama ini, masih jauh dari kata sempurna. Masih panjang perjalanan dan perjuangan yang harus dilewati. Ibaratnya, kami masih anak kemarin sore, namun sudah pengen sesuatu yang besar! Hey semua butuh proses. Pantaskan diri sebelum mencapai sesuatu yang besar. Dan semuanya butuh proses, proses yang tidak mudah seperti bikin mie instan, ada perjuangan dibalik itu semua. Bukankah langkah besar selalu diawali dari langkah-langkah kecil, langkah kecil dimulai dari keberanian, dan keberanian dimulai dari nekat dan nekat dimulai dari niat. Niat baik akan menghasilkan hasil yang baik bukan?

Diawal pertemuan, arief menjelaskan tentang strategi yang dia pakai ketika agate studio berdiri. Bootstrap strategy, Strategy ini memang jamak dilakukan oleh hampir seluruh startup, termasuk kami. Bootstrap adalah startup yang dibangun tanpa campur tangan Investor dengan modal minim, resource dan segalanya masih dengan seminimal mungkin. Tapi niatnya dan effortnya maksimal. Kalau yang terakhir penambahan dari gue aja.😀

Bootstrap means You are the CEO, You are The Finance Manager, You are The Sales & Marketing, You are The programmer, You are The Designer and You are also The Janitor.You are what your company needs you to be.

Arief melanjutkan pembahasannya untuk finance strategy, ada tips menarik dari arief. Sederhana, namun menurut saya ini sangat efektif sekali untuk startup. Dia memberitahu jika startup harus punya minimal 2 rekening bank. Alasannya sederhana, supaya startup kita bisa survive, insya allah seperti itu. 2 rekening bank ini dibagi berdasarkan kebutuhan operasional dan saving. Arief membagi kedua rekening ituu dengan perbandingan 70% untuk operasional dan 30% untuk saving. Bagaimanapun caranya, operasional selama 1 bulan harus cukup dengan jatah 70% dari revenue yang didapat.

Arief juga bercerita tentang strategy business unit (SBU) yang biasanya juga sering dilakukan startup. Tadinya karena ingin melakukan ekspansi, jendral-jendral Agate disebar menjadi berbagai SBU. Namun sayangnya strategi ini gagal dan malah menyebabkan kerugian sehingga jendral-jendral nya ditarik kembali menjadi 1 tim, untuk menyelesaikan 1 produk. Hasilnya bisa diperkirakan, produknya booming dan mendapatkan revenue yang tinggi. Kegagalan itu memberikan pengalaman bahwa jangan terlalu tergesa-gesa dalam memecah tim menjadi berbagai SBU. SBU bisa dilakukan jika tim dan semuanya telah stabil.

The Golden Circle

Start with Why Question , ini dibahas oleh arief, dan i couldn’t agree more with him. Kesalahan startup adalah memulai semuanya dari what ,berlanjut ke how. Setelah produk jadi biasanya, baru terpikirkan why we develop this product, the market won’t it. Kesulitan mengakses pasar biasanya terjadi karena produk ini tidak menjawab solusi dari masalah target market. Dan beberapa produk kami sebelumnya juga mengalami masalah yang sama.

The Right Habit

Ada positive dan ada negative. Itu hal yang berbeda dan pasti ada. Bukan takdir, namun inilah pilihan. Positivity terdiri dari ownership, accountability, dan responsibility. Negative isinya blame , excuse, dan denial. Pada sesi ini, ada satu cerita yang bikin saya tau tentang esensi dari the right habit. Cerita tentang seorang ayah yang ketumpahan kopi, pernah dengar? Silahkan cari ya.. hehehe

Oia, Di sepanjang pertemuan kali ini, baik arief maupun pak dwi larso banyak menyinggung tentang visi dan misi. Dan saya mulai berfikir kembali tentang visi dan misi yang pernah kami define diawal. Ini bukan hal yang sepele, walaupun cuma terjabar dalam beberapa kalimat. Sederhana memang, dan sesederhana pertanyaan ini, “apa alasan kita ada di dunia ini?” Menemukan alasannya berarti sama dengan bagaimana menjawab visi dan misi untuk hidup, untuk berusaha, untuk bermanfaat, untuk dunia dan akhirat.

Bikin rencana kita sendiri,
atau seumur hidup kita akan selalu jadi bagian dr rencana org lain
– anonims –

 

 

 

 

2 thoughts on “Belajar Filosofi dari Agate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s